Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anemia Defisiensi Besi - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)

Anemia adalah rendahnya nilai hemoglobin dari batas normal. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kosongnya cadangan besi di dalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah (eritropoeses) berkurang akibat  penyediaan besi yang rendah.


Ilmu Kedokteran Dasar

1. Fisiologi hemapoesis (eritropoesis)
2. Biokimia (Metabolisme besi (Fe) dan hemoglobin
3. Hematologi
4. Farmakologi

Final Concept Map

Patofisiologi Anemia Defisiensi Besi : 


Penjelasan Patofisiologi Anemia :

Menurunya kadar hemoglobin yang menjadi salah satu penyebab anemia juga menyebabkan kekentalan darah menurun dan penurunan kadar oksigen dalam darah sehingga transport oksigen kedalam jaringan terganggu dan menyebabkan metabolisme anaerob dalam jaringan sehingga menyebabkan produksi ATP menurun dan terbentuknya asam laktat yang dapat menyebabkan kelelahan dan lemah.

Akibat lain dari menurunnya kadar hemoglobin dalam darah juga mempengaruhi kerja organ vital, sehingga darah akan lebih dipasok ke organ vital contoh pada jantung yang dapat menyebabkan gagal jantung karena beban kerja jantung yang keras untuk memompa darah yang cenderung sedikit untuk semua jaringan, sehingga organ di perifer yang umumnya memerlukan pasokan darah lebih kecil lebih tidak diutamakan .

Perubahan warna jaringan menjadi pucat contohnya pucat di tangan, di wajah, dan sebagainya. Hal tersebut juga berpengaruh ke sistem GIT, dimana suplai oksigen sedikit sehingga pergerakan peristaltik menurun dan isi lambung sulit keluar dan menyebabkan tekanan intraabdomen meningkat lalu terjadi mual muntah.

Etiologi Anemia Defisiensi Besi :

- Rendahnya kadar besi
- Gangguan absorbsi
- Kehilangan zat besi akibat perdarahan menahun.
- Kurangnya jumlah zat besi di dalam makanan
- Kebutuhan besi meningkat didalam tubuh
- Gangguan absorbsi besi

Faktor Resiko Anemia Defisiensi Besi : 

- Jenis Kelamin : Wanita lebih sering, akibat dari perdarahan akut (haid, persalinan)
- Usia : bayi dan anak-anak lebih sering  karena pada rentan usia yang membutuhkan zat besi.
- Dier rendah Fe
- Pola hidup, vegetarian memilki resiko kekurangan zat besi
- Kehilangan darah secara mendadak (kecelakaan, pasca persalinan)
- Kehilangan darah akibat penyakit kronik ( Ulkus peptic, TBC)

Diagnosis Banding Anemia Defisiensi Besi : 

- Anemia defisiensi besi : anemia akibat kekurangan pasokan besi dalam tubuh
- Anemia akibat penyakit kronik : Anemia yang ditemukan pada penyakit kronik tertentu
- Thalassemia : Penurunan sintesis α atau β dari globin

Pemeriksaan Penunjang Anemia Defisiensi Besi :

- Pemeriksaan Laboratorium : 

1. Pengukuran kadar hemoglobin dan indeks eritrosit
2. Kadar besi serum menurun
3. Kadar serum feritinin
4. Protoforfirin eritrosit meningkat
5. Sumsum tulang
6. Diperiksa kadar reseptor transferin
7. Penegecetan besi sumsum tulang

- Pemeriksaan feses untuk cacing tambang

- Pemeriksaan darah samar

- Endoskopi

- Barium intake atau barium inloop


Tata Laksana Anemia Defisiensi Besi : 

- Terapi casual : Pengobatan tergantung penyebabnya
- Pemberian preparat besi (besi oral dan besi parenteral)
- Pengobatan lain : Makanan bergizi, vitamin C, Transfusi darah.

Komplikasi Anemia Defisiensi Besi : 

- Gagal jantung kongestif
- Parestesia
- Konfusi kanker
- Penyakit ginjal, Gondok
- Gangguan pembentukan heme
- Penyakit infeksi kuman
- Thalasemia
- Kelainan jantung
- Rematoid
- Meningitis
- Gangguan sistem imun

Prognosis Anemia Defisiensi Besi : 

Prognosis anemia umumnya sangat baik. Terapi dengan penggantian substrat (zat besi, B12, folat) harus segera dimulai dan dilanjutkan setidaknya 6 bulan setelah kadar zat besi pasien kembali normal.

Penulis : Dokteroce.com

Post a comment for "Anemia Defisiensi Besi - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)"