Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konjungtivitis - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)

Pasien 19 tahun datang ke poliklinik, setelah dilakukan anamnesa didapatkan pasien mengeluhkan beberapa hal, yaitu : mata merah di sebelah kiri sejak 2 hari, mata merah terjadi mendadak, disertai keluar kotoran dan berair, mata terasa nyeri jika terkena cahaya, mata yang sakit terasa sedikit gatal, kelopak mata bengkak, jika bangun tidur kelopak mata agak menempel, terbentuk keropeng, sebelumnya pasien telah menggunakan tetes mata visine sejak kemarin sebanyak tiga kali dua tetes namun belum ada perubahan, pasien belum pernah mengalami keluhan serupa dan tidak ada penyakit lain, tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa.


Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik dan didapatkan hasil pada oculi sinistra, berupa: edema palpebra superior, tampak konjungtiva tarsus terdapat hiperemi pd okuli sinistra, konjungtiva tarsus inferior terdapat hiperemi, tampak secret kekuningan yang keluar, konjungtiva bulbi sinistra : cvi (+), terdapat perdarahan sub konjungtiva sinistra. 

Pada pemeriksaan fisik oculi dekstra didapatkan hasil, berupa : hipertrofi papiler, giant papil di konjungtiva tarsus superior, konjungtiva tarsus inferior terdapat hiperemia, konjungtiva tarsus superior dextra hipertrofi papiler, konjungtiva bulbi: cvi(+).

Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa bahwa, pada oculi sinistra mengalami konjungtivitis bakteri dan konjungtivitis alergi pada oculi dekstra. Konjungtivitis merupakan suatu keadaan dimana terjadi inflamasi atau peradangan pada konjungtiva. 

Hal ini disebabkan karena lokasi anatomis konjungtiva sebagai struktur terluar mata sehingga konjungtiva sangat mudah terpapar oleh agen infeksi, baik endogen (reaksi hipersensitivitas dan autoimun) maupun eksogen (bakteri, virus, jamur).

Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang terjadi akibat paparan bakteri. konjungtivitis bakteri umum di jumpai pada anak-anak dan dewasa dengan mata merah. 

Jenis konjungtivitis hiperakut (purulen) dapat disebabkan oleh N Gonorrhoeae, Neisseria kochii, dan N.meningitidis. Jenis konjungtivitis akut (mukopurulen) sering disebabkan oleh Streptococcus Pneumoniae pada daerah dengan iklim sedang dan Haemophillus aegyptius pada daerah dengan iklim tropis. 

Konjungtivitis bakteri akibat S Pneumoniae dan H Aegyptius dapat disertai dengan perdarahan subkonjungtiva. Konjungtiva subakut paling sering disebabkan oleh H influenzae dan terkadang oleh Escherichia coli dan spesies proteus. Secara umum, konjungtivitis bakteri bermanifestasi dalam bentuk iritasi dan pelebaran pembuluh darah (injeksi) bilateral, eksudat purulen, eksudat purulen dengan palpebra saling melengket saat bangun tidur, dan kadang-kadang edema palpebra. 

Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan melalui tangan menular ke sisi lainnya. Pemberian antibakteri dapat mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi resiko komplikasi.

Konjungtivitis alergi adalah konjungtivitis yang disebabkan karena adanya reaksi humoral dari dalam tubuh, terutama reaksi hipersensitivitas tipe 1. Gejala utama penyakit alergi ini adalah radang ( merah, sakit, bengkak, dan panas), gatal, silau berulang dan menahun. Tanda karakteristik lainnya yaitu terdapat papil besar/giant pappil pada konjungtiva, yang dapat mengganggu penglihatan. 

Pengobatan konjungtivitis alergi yaitu dengan menghindarkan penyebab pencetus penyakit dan memberikan astringen, sodium kromolin, steroid topical dosis rendah kemudian ditambahkan kompres dingin untuk menghilangkan edemanya. Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan steroid sistemik.

Patofisiologi Konjungtivitis :


Ilmu Kedokteran dasar : 

1. Anatomi mata bagian depan
2. Histologi mata bagian depan
3. Fisiolog proteksi mata dan sistem lakrimasi
4. KDI

Etiologi Konjungtiva :

1. Bakteri H. influenza,
2. S. pneumoniae, S. aureus,
3. Moraxella
4. Neisseria gonorrheae

Faktor resiko Konjungtiva :

1. Usia tersering pada anak-anak
2. Kontak dengan individu yang terinfeksi
3. Obstruksi saluran nasolakrimalis
4. Kelainan posisi kelopak mata, dan defesiensi air mata

Diagnosis Banding Konjungtiva :

1. Konjungtivitis bakteri akut
2. Keratitis
3. Uveitis anterior
4. Blefaritis anterior
5. Episkleritis

Tata Laksana Konjungtiva :

1. Konjungtivitis Bakteri Akut
- Kira-kira 60% kasus membaik dalam 5 hari tanpa terapi
- Antibiotik (gentamicin, kloramfenikol) sering diberikan untuk mempercepat penyebuhan dan mencegah reinfeksi
2. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
- Rawat inap bila kornea terkena
- Topikal gentamicin, bacitracin, ciprofloxacin tiap jam
- Sistemik ceftriaxone 1g IM (pasien rawat jalan), 2x1g IV selama 3 hari (untuk pasien rawat inap)
- Irigasi normal salin pada saccus konjungtiva pada kasus berat untul menghilangkan sel-sel dan debris

Penegakkan Diagnosis Konjungtiva :

- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan Visus, Pemeriksaan Konjungtiva, Pemeriksaan Sekret dan Kornea
- Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan Slit-Lamp, Mikrobiologi Test

Komplikasi Konjungtiva :

1. Blefaritis marginal kronik
2. Komplikasi Pengobatan Antibiotik
3. Komplikasi Pengobatan Kortikosteroid (Glaukoma, Katarak dan Resistensi dan Efek Samping penggunaan kortikosteroid

Prognosis Konjungtiva :

Bila segera diatasi konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika penyakit pada radang mata tidak segera ditangani atau diobati dapat menyebabkan kerusakan pada mata dan dapat menimbulkan komplikasi seperti glaukoma, katarak maupun ablasio retina.

Penulis : Dokteroce.com

Post a comment for "Konjungtivitis - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)"