Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stunting - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)

Konten [Tampil]

Stunting adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.

Baca juga : Skizofrenia - Final Concept Map (Patofisiologi, etiologi, dll)

Ilmu Kedokteran Dasar :

1. Biochemistry of micronutrient and macronutrient

2. Fisiologi pertumbuhan

Final Concept Map :

Patofisiologi :



Penjelasan Patofisiologi :

Masalah gizi merupakan masalah multidimensi, dipengaruhi oleh berbagai factor penyebab. Masalah gizi berkaitan erat dengan masalah pangan. Masalah gizi pada anak balita tidak mudah dikenali oleh pemerintah, atau masyarakat bahkan keluarga karena anak tidak tampak sakit. Terjadinnya kurang gizi tidak selalu didahului oleh terjadinnya bencana kurang pangan dan kelaparan seperti kurang gizi pada dewasa. Hal ini berarti dalam kondisi pangan melimpah masih mungkin terjadi kasus kurang gizi pada anak balita. Kurang gizi pada anak balita bulan sering disebut sebagai kelaparan tersembunyi atau hidden hunger.

Stunting merupakan respresentasi dari disfungsi sistemik dalam fase perkembangan anak dan tanda dari adannya malnutrisi kronik. Factor utama dalam mekanisme stunting adalah adannya inflamasi pada penyakit kronik, dan penyakit dengan resistensi terhadap hormon pertumbuhan. Pada inflamasi penyakit kronik, akan terjadi kaheksia, yaitu ditandai dengan turunnya nafsu makan, meningkatnya laju metabolisme basal, berkurangnya massa otot, dan tidak efisiensi penggunaan lemak dalam tubuh sebagai energi.

Selain itu juga terjadi malabsorbsi makanan, intoleransi makan, dan adannya efek obat dari terapi yang sedang dijalani, contohnya steroid. Hal ini kemudian akan mengakibatkan adannya proses akut, yaitu penurunan berat badan. Kaheksia pada akhirnya akan menyebabkan defisiensi makronutrisi, vitamin dan mineral. Adannya resistensi terhadap GH pada suatu penyakit. Ketika protein dan kalori menurun dengan keadaan berulang akibatnya penurunan Berat badan, lalu Ketika protein dan kalori menurun menyebabkan respon korteks adrenal adekuat, terjadilah peningkatan optimal pada kortisol plasma, Ketika kortikol plasma meningkat secara optimal menghambat GHRH akibatnya reterdasi pertumbuhan. Peningkatan kortisol plasma juga menyebabkan terganggunya sintesis protein dalam membentuk otot, terjadilah unnormally amino acid dan lipoprotein sehingga melepaskan asam lemak ditubuh, tidak ada deposit lemak dalam tubuh, Berat badan tetap.

Pembesaran tonsil juga dapat memicu stunting, ketika bakteri menginvasi daerah tonsil terjadi infiltrasi pada lapisan epitel berlanjut menjadi radang terbentuklah detritus. Antenatal care dan prenatal care dapat juga mempengaruhi stunting dimana Ketika ANC dan PNC buruk asupan nutrisi pada ibu menjadi rendah, dan berkurangnya sintesis matriks kolagen ( sel epitel, sel masenkim dan trophoblast), pada saat ketuban pecah dini nutrisi janin berkurang akibatnya BBLR (bayi berat lahir rendah) , BBLR ini selain disebabkan nutrisi janin kurang dapat juga akibat kegagalan zat gizi yang tidak adekuat dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga defisiensi sat besi dan zinc, pertumbuhan terhambat. Ketika asupan nutrisi ibu rendah Ketika kehamilan minggu ke 9-38 (trimester II dan III ) perkembangan otak janin dapat terganggu sehingga daya kognitif dan intelektual menurun. ANC dan PNC buruk juga dapat menganggu produksi ASI karena bayi tidak mendapat ASI imunitas bayi tidak adekuat.

Stunting juga dapat diakibatkan lingkungan sekitar contoh dimana terpapar asap rokok, karena akibat paparan asap rokok yang dihasilkan adalah karbondioksida, dan Ketika Hb yang berikatan dengan CO menjadi karboksi hemoglobin dan hemonglobin inaktif timbulah hipoksia jaringan akibatnya terjadi Hb menurun dan anemis.


Etiologi Stunting :

1. Terdapat gap antara petugas kesehatan dan pengasuh anak mengenai cara mengasuh anak

2. Masih terbatasnya layanan kesehatan

3. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan brgizi

4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi

5. Disebabkan oleh penyakit


Faktor Risiko Stunting :

1. Asupan zat gizi

2. Daya beli keluarga

3. Tingkat pendidikan ibu

4. Pengetahuan gizi ibu

5. Primart neglected


Diagnosis Banding Stunting :

1. Stunting

2. Marasmus

3. Kwashiorkor

4. BBLR


Penegakkan Diagnosa Stunting

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik

3. Cek KMS (Kartu Menuju Sehat)

4. Pemeriksaan Penunjang


Tatalaksana Stunting :

1. Pencegahan (ASI, MPASI, PHBS, memantau tumbuh kembang anak)

2. Perbaikan gizi dengan mmberikan MPASI untuk usia 10 bulan


Komplikasi Stunting :

1. Dampak jangka pendek

a. Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian

b. Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal

c. Peningkatan biaya kesehatan

2. Dampak jangka panjang

a. Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya)

b. Meningkatkan resiko obesitas dan penyakit lainnya

c. Menurunnya kesehatan reproduksi

d. Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah, dan

e. Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal


Prognosis Stunting :

Secara umum : Baik, identifikasi faktor prognostik stunting saat lahir, interventasi sejak dini, 2 tahun pertama kehidupan. Buruk, anak laki-laki yang lahir prematur dan usia kehamilan kecil.